https://sibermedia.net/wp-content/uploads/2025/05/WhatsApp-Image-2025-05-24-at-13.49.51.jpeg

Tunda Panen Demi Mutu, Bisnis Kopi PTPN IV Tetap Raup Laba pada Awal 2026

SIBERMEDIA.NET,JAKARTA,— Anomali iklim berupa tingginya curah hujan pada awal 2026 mendorong pengelola perkebunan menyesuaikan ritme produksi. Meski demikian, kinerja keuangan segmen kopi PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo tetap mencatatkan hasil positif.

Subholding dari PT Perkebunan Nusantara III (Persero) ini membukukan laba sebelum pajak dari komoditas kopi sebesar Rp 3,43 miliar pada triwulan I 2026. Capaian tersebut diraih di tengah keputusan manajemen untuk menunda panen raya guna menjaga kualitas biji kopi.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan peningkatan kinerja didorong oleh lonjakan penjualan pada awal tahun.

“Penjualan meningkat cukup tinggi. Di saat yang sama, kami tetap menjaga arus kas operasional agar tetap sehat,” ujar Jatmiko, Selasa (7/4/2026).

Berdasarkan data perusahaan, penjualan bersih kopi hampir berlipat ganda secara tahunan. Pada triwulan I 2025, penjualan tercatat Rp 10,94 miliar, sementara pada periode yang sama tahun ini meningkat menjadi Rp 21,78 miliar.

Namun demikian, peningkatan penjualan tidak sepenuhnya diikuti oleh lonjakan laba operasional. EBITDA tercatat sebesar Rp 3,70 miliar per Maret 2026, sedikit menurun dibandingkan Rp 3,82 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Meski begitu, kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dinilai masih relatif terjaga.

Panen Diundur, Mutu Dijaga

Di balik kinerja finansial tersebut, perusahaan menghadapi tantangan di sisi hulu. Curah hujan tinggi menyebabkan berkurangnya intensitas penyinaran matahari yang dibutuhkan tanaman kopi untuk proses fotosintesis dan pematangan buah.

Akibatnya, buah kopi atau cherry berkembang lebih lambat dari biasanya. Kondisi ini terjadi di sejumlah wilayah operasional utama.

Di kawasan Java Coffee Estate (JCE) di lereng Dataran Ijen, Jawa Timur, curah hujan tercatat mencapai 120 milimeter dengan 21 hari hujan sepanjang triwulan pertama. Sementara di wilayah Jambi, curah hujan mencapai 57 milimeter dengan 10 hari hujan.

Manajer KSO Java Coffee Estate, Hastudy Yunarko, menjelaskan kondisi tersebut membuat perusahaan harus mengambil langkah antisipatif.

“Kalau panen dipaksakan saat buah belum matang sempurna, kualitas seduhan kopi akan turun. Itu berisiko terhadap standar mutu produk,” kata Hastudy.

Karena itu, manajemen memutuskan menggeser jadwal panen raya ke Mei 2026, menyesuaikan dengan tingkat kematangan alami kopi cherry merah. Langkah ini dinilai memberikan waktu tambahan bagi buah untuk mencapai kualitas optimal.

Menurut Hastudy, keputusan tersebut merupakan bagian dari strategi menjaga kualitas di tengah tekanan faktor cuaca. “Kami memilih menunggu agar kualitas tetap terjaga saat produk masuk ke pasar,” ujarnya.

Di tengah dinamika iklim yang semakin sulit diprediksi, pelaku industri perkebunan dituntut lebih adaptif. Bagi PTPN IV, menjaga keseimbangan antara kuantitas produksi dan kualitas hasil menjadi kunci untuk mempertahankan kinerja sekaligus menjaga daya saing kopi di pasar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *