https://sibermedia.net/wp-content/uploads/2025/05/WhatsApp-Image-2025-05-24-at-13.49.51.jpeg

Kayu Aro Memasuki Abad Kedua: Dari Warisan Kolonial Menuju Teh Berkelas Dunia

SIBERMEDIA. NET, JAMBI – Kebun Teh Kayu Aro di Kabupaten Kerinci, Jambi, menandai satu abad keberadaannya sebagai salah satu kebun teh tertua dan tertinggi di Indonesia.

Lebih dari sekadar perayaan usia, momen ini menjadi titik tolak transformasi menuju penguatan merek, peningkatan mutu, dan keberlanjutan pengelolaan di tengah persaingan industri teh global.

Peringatan 100 tahun Kebun Teh Kayu Aro berlangsung pada 30 Desember 2025 di kawasan perkebunan yang membentang di lereng Gunung Kerinci.

Acara bertajuk “Seabad Aroma, Rasa, Warna, dan Sejuta Cerita” tersebut dihadiri manajemen Sub Holding PTPN III (Persero), PTPN IV PalmCo, unsur Forkopimda, serta Pemerintah Kabupaten Kerinci. Kehadiran Bupati Kerinci Monadi menegaskan arti strategis Kayu Aro bagi daerah.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menyampaikan bahwa Kayu Aro merupakan simbol perjalanan panjang industri perkebunan nasional. Berdiri sejak 1925 di ketinggian lebih dari 1.400 meter di atas permukaan laut, kebun teh ini telah melewati berbagai fase sejarah dan kini sepenuhnya dikelola oleh putra-putri bangsa.

“Kayu Aro bukan hanya aset perusahaan, tetapi juga warisan nasional. Tantangan kami ke depan adalah menjaga kesinambungan produksi sekaligus memastikan kualitasnya mampu bersaing di pasar internasional,” ujar Jatmiko.

Ia menambahkan, penguatan daya saing harus tetap berpihak pada masyarakat sekitar, yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem perkebunan.

Transformasi Produk dan Mutu
Memasuki abad kedua, PalmCo memperkenalkan langkah rebranding melalui peluncuran kemasan baru untuk produk teh seduh dan teh celup Kayu Aro. Pembaruan ini ditujukan untuk menjawab selera konsumen modern tanpa menghilangkan identitas historis yang telah melekat selama satu abad.

Direktur Strategi dan Sustainability PTPN IV PalmCo, Ugun Untaryo, menegaskan bahwa transformasi dilakukan secara menyeluruh, mulai dari modernisasi proses hingga digitalisasi, dengan peningkatan kualitas sebagai prioritas utama.

“Produktivitas dan standar mutu menjadi fondasi pengelolaan Kayu Aro di masa depan. Nilai sejarah tetap kami jaga, tetapi kami juga harus adaptif terhadap perubahan zaman,” katanya.

Dari sisi kinerja, Kebun Teh Kayu Aro menyumbang sekitar 4,5 persen dari total produksi teh PTPN IV sejak 2008. Teh Kayu Aro juga dikenal memiliki pasar ekspor dan pernah menjadi pilihan kalangan bangsawan Eropa karena aroma serta karakter rasanya yang khas.

Selain fokus produksi, PalmCo mengembangkan Kayu Aro sebagai kawasan terpadu yang menggabungkan aspek konservasi lingkungan, edukasi sejarah, dan potensi agrowisata.
Kebanggaan dan Identitas Daerah
Pemerintah Kabupaten Kerinci memandang Kebun Teh Kayu Aro sebagai bagian dari identitas daerah. Bupati Monadi menilai keberadaan kebun teh ini berperan penting dalam menggerakkan perekonomian dan sektor pariwisata lokal.

“Sinergi antara pemerintah daerah dan PTPN IV PalmCo harus terus diperkuat agar keberlanjutan Kayu Aro sejalan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Dengan pijakan sejarah yang kuat, PalmCo optimistis Kayu Aro mampu menatap masa depan dengan percaya diri. Satu abad pertama menjadi fondasi untuk menulis babak baru yang lebih kompetitif dan berkelanjutan.

“Seratus tahun bukan akhir, melainkan awal perjalanan baru untuk menjadikan Teh Kayu Aro sebagai salah satu rujukan kualitas teh dunia,” tutup Jatmiko.

Di tengah dinamika industri global, Kayu Aro memilih melangkah dengan keseimbangan antara tradisi dan inovasi—menjaga mutu, merawat sejarah, dan terus beradaptasi dengan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *