SIBERMEDIA. NET, Lampung Tengah – Tingginya prevalensi anemia pada remaja putri di Provinsi Lampung menjadi perhatian serius.
Lampung tercatat memiliki angka anemia tertinggi di Sumatera, yaitu 63 persen, dengan 24 persen kasus terjadi pada remaja putri.
Kondisi ini berpotensi mengganggu tumbuh kembang, menurunkan kebugaran dan prestasi belajar, serta meningkatkan risiko stunting pada generasi berikutnya.
Menindaklanjuti kondisi tersebut, tim pengabdian masyarakat Politeknik Kesehatan Tanjungkarang bekerja sama dengan Puskesmas Bandar Agung dan sekolah-sekolah di Kecamatan Terusan Nunyai meluncurkan Program Pencegahan dan Penatalaksanaan Anemia Remaja Putri.
Program ini berlangsung dari Agustus hingga Desember 2025 dengan sasaran remaja putri di tingkat SLTP dan SLTA.
Kegiatan utama program mencakup edukasi berbasis bukti ilmiah, skrining anemia, pemberian tablet tambah darah (TTD), serta penatalaksanaan bagi peserta yang membutuhkan.
Edukasi diberikan untuk meningkatkan pemahaman remaja tentang pentingnya zat besi, konsumsi sayur dan buah kaya vitamin C, serta pemantauan siklus menstruasi sebagai indikator kesehatan reproduksi.
Skrining dilakukan dengan pemeriksaan hemoglobin menggunakan perangkat digital portabel, dibantu mahasiswa Teknologi Laboratorium Medis.
Hasil pemeriksaan menjadi dasar pemberian intervensi lanjutan, termasuk konsumsi TTD yang diawasi guru UKS dan kader remaja. Peserta dengan anemia sedang hingga berat dirujuk untuk pemantauan lanjutan di puskesmas.
Program ini juga membentuk kader remaja gizi di sekolah mitra, yang dibekali materi tentang gizi, anemia, dan teknik komunikasi untuk menjadi agen edukasi dan memantau konsumsi TTD di sekolah.
Inovasi ini diharapkan memperkuat perubahan perilaku sehat secara berkelanjutan.
Ketua tim pengabdi, Dr. Ns, Anita, M.Kep, Sp.Mat, menegaskan, “Pencegahan anemia harus dimulai sejak dini. Melalui edukasi dan pendampingan yang tepat, kami ingin mencetak remaja putri yang lebih sehat dan siap menjadi generasi penerus yang kuat.”
Anggota tim pengabdi, Mei Ahyanti, SKM, M.Kes, menambahkan, “Edukasi interaktif ini bertujuan agar remaja memahami pentingnya pola makan bergizi dan disiplin mengonsumsi tablet tambah darah. Keterlibatan siswa sebagai kader gizi memperluas dampak program di sekolah.”
Sutrio, SKM, M.Kes menyatakan, “Dengan skrining dan pemantauan rutin, anemia dapat terdeteksi sejak dini dan ditangani dengan tepat. Remaja juga belajar menjaga kesehatan diri sendiri secara mandiri.”
Puskesmas Bandar Agung menyampaikan komitmen meneruskan program pasca pelaksanaan. “Kami sepakat menjaga keberlanjutan program karena dampaknya signifikan bagi kesehatan remaja dan pencegahan stunting jangka panjang,” ujar Yunus, S.Kp, kepala puskesmas.
Program menargetkan penurunan minimal 10 persen prevalensi anemia di wilayah kerja puskesmas, serta peningkatan kebugaran fisik, konsentrasi belajar, dan kualitas kesehatan reproduksi remaja putri.
Melalui kolaborasi antara institusi pendidikan, tenaga kesehatan, dan masyarakat, program ini diharapkan menjadi model intervensi kesehatan remaja yang efektif dan dapat direplikasi di wilayah lain di Provinsi Lampung, sebagai langkah strategis mencetak generasi muda sehat, produktif, dan bebas risiko anemia maupun stunting.










