https://sibermedia.net/wp-content/uploads/2025/05/WhatsApp-Image-2025-05-24-at-13.49.51.jpeg

Banjir Kembali Melanda Bandar Lampung, Akademisi Usulkan Gerakan Zero Runoff Skala Rumah Tangga

SIBERMEDIA.NET,Bandar Lampung, Tribun — Banjir kembali melanda sejumlah wilayah di Kota Bandar Lampung pada Jumat (6/3/2026). Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung, tercatat sebanyak 47 titik banjir tersebar di berbagai kecamatan.

Titik banjir tersebut antara lain berada di Kecamatan Sukarame sebanyak 10 titik, Way Halim 9 titik, Sukabumi 4 titik, Rajabasa 3 titik, Tanjung Senang 5 titik, Tanjungkarang Timur 1 titik, Tanjungkarang Barat 1 titik, Tanjungkarang Pusat 2 titik, Enggal 2 titik, Labuhan Ratu 3 titik, Kedamaian 1 titik, Langkapura 1 titik, serta Kemiling 1 titik.

Dosen Program Studi S1 Teknik Sipil Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. Ir. Lilik Ariyanto, S.T., M.T., I.P.M., ASEAN Eng., mengatakan banjir yang kerap terjadi di Bandar Lampung dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari perubahan tata guna lahan hingga menurunnya kapasitas sungai.

Menurutnya, Kota Bandar Lampung dalam satu dekade terakhir mengalami pertumbuhan penduduk yang pesat. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan jumlah penduduk meningkat dari 960.695 jiwa pada 2014 menjadi 1.214.330 jiwa pada 2024.

“Perkembangan kota yang pesat menyebabkan alih fungsi lahan pada daerah tangkapan air, munculnya bangunan di sempadan sungai, penyempitan badan air, serta kebiasaan menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah,” ujar Lilik.

Ia menjelaskan bahwa Kota Bandar Lampung memiliki sedikitnya enam sungai utama yang melintasi wilayah kota, yaitu Way Sukamaju, Way Kuripan, Way Bako, Way Kuala, Way Lunik, dan Way Kandis Nunyai. Sungai-sungai tersebut selama ini dipantau dan dipelihara oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji-Sekampung di bawah Kementerian Pekerjaan Umum.

Namun, jika kapasitas sungai terus menurun akibat sedimentasi dan penyempitan, maka saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi dalam durasi lama, air sungai berpotensi meluap dan menyebabkan banjir.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Lilik mengusulkan penerapan konsep Zero Runoff sebagai solusi pengendalian banjir jangka panjang.

Konsep Zero Runoff merupakan upaya mengurangi aliran permukaan dengan cara menangkap, menyimpan, dan meresapkan air hujan langsung di lokasi jatuhnya air.

“Sistem ini bisa dimulai dari skala rumah tangga melalui instalasi pemanenan air hujan yang terintegrasi dengan kolam retensi dan sumur resapan,” jelasnya.

Dalam sistem tersebut, air hujan akan ditangkap dan disimpan dalam penampungan. Jika kapasitas penampungan penuh, air dialirkan ke kolam retensi. Selanjutnya, sisa air akan masuk ke sumur resapan sehingga dapat meresap perlahan ke dalam tanah.

Selain membantu mengurangi potensi banjir, sistem ini juga memiliki manfaat lain, seperti mengisi kembali cadangan air tanah dan menyediakan air untuk kebutuhan rumah tangga, seperti menyiram tanaman, mencuci kendaraan, hingga membersihkan rumah.

Lilik menambahkan, air yang tertampung di kolam retensi bahkan dapat dimanfaatkan untuk budidaya ikan air tawar dan tanaman sayur di sekitar kolam.

Ia memperkirakan, jika sekitar 200 ribu rumah di Bandar Lampung menerapkan sistem pemanenan air hujan dengan kapasitas tampungan sederhana 0,5 meter kubik dan kolam retensi 2 meter kubik, maka setiap hujan dapat mengurangi aliran permukaan hingga sekitar 400 ribu meter kubik air.

“Jika dilakukan secara masif, sistem ini akan sangat membantu mengurangi beban sungai dan menekan potensi banjir di Kota Bandar Lampung,” katanya.

Ia berharap pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan dapat berkolaborasi dalam menerapkan konsep tersebut sebagai bagian dari upaya bersama mengurangi risiko banjir di masa mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *