SIBERMEDIA. NET, BANDAR LAMPUNG – Amalia Nur Shabrina, mahasiswi Program Studi S1 Pendidikan Olahraga Universitas Teknokrat Indonesia, Kampus Terbaik di Lampung, berhasil meraih medali perunggu pada ajang Kejuaraan Nasional Boxing Championship yang diselenggarakan Polresta Bandar Lampung dalam rangka Polresta Boxing Championship dan Fighter of PON Beladiri Lampung, 13–15 Februari 2026.
Prestasi ini menjadi kebanggaan tersendiri, baik bagi Amalia maupun kampusnya. Dalam keterangannya kepada wartalampung.id, Amalia menyampaikan bahwa menjadi juara bukan sekadar tentang berdiri paling akhir di atas ring.
“Menjadi juara boxing bukan hanya tentang berdiri paling akhir di atas ring, melainkan tentang membuktikan bahwa kerja keras, disiplin, dan doa tidak pernah mengkhianati hasil,” ujar Amalia melalui pesan tertulis, Sabtu (28/2/2026).
Bagi dirinya, kemenangan tersebut adalah bukti bahwa ia mampu melampaui batas diri. Setiap latihan, keringat, dan rasa lelah yang dijalani selama ini menjadi proses pembentukan mental yang kuat.
“Setiap latihan, setiap keringat, dan setiap rasa lelah adalah proses yang membentuk mental baja,” katanya.
Amalia mengaku terinspirasi oleh semangat juang petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, yang selalu percaya pada diri sendiri bahkan sebelum dunia mempercayainya.
“Seperti Muhammad Ali yang selalu yakin pada dirinya, aku juga harus yakin bahwa aku bisa,” tambahnya.
Ia menegaskan, raihan medali ini juga menjadi bentuk kontribusi dan rasa bangga terhadap almamaternya. Amalia ingin membuktikan bahwa mahasiswa Teknokrat tidak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga berprestasi dalam olahraga.
“Saya ingin membawa nama kampus berdiri tinggi, membuktikan bahwa mahasiswa Teknokrat bukan hanya unggul di akademik, tetapi juga berprestasi di bidang olahraga,” ucapnya.
Menurut Amalia, kemenangan ini juga menjadi pesan bagi mahasiswa lainnya bahwa tidak ada yang mustahil jika mau berjuang. Keterbatasan harus dijadikan motivasi, bukan alasan untuk menyerah.
“Saya bertanding bukan hanya untuk medali, melainkan untuk harga diri, kebanggaan, dan inspirasi. Saya bangga menjadi mahasiswa Teknokrat yang selalu mendukung setiap proses dan memberikan banyak fasilitas untuk menjadi mahasiswa berprestasi akademik dan nonakademik,” tuturnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr HM Nasrullah Yusuf SE MBA, menyampaikan bahwa olahraga beladiri memiliki peran signifikan dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Menurutnya, berbagai studi termasuk dari UNESCO menyoroti beladiri sebagai alat efektif untuk pengembangan pemuda dan pemberdayaan masyarakat.
Ia menjelaskan, olahraga beladiri mendukung sejumlah poin SDGs, di antaranya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui peningkatan kesehatan fisik dan mental, SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) lewat penanaman nilai disiplin dan tanggung jawab, hingga SDG 5 (Kesetaraan Gender) dengan pemberdayaan perempuan melalui keterampilan pertahanan diri.
Selain itu, beladiri juga mendukung SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan), SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Kuat), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi berbagai pihak dalam inisiatif sport for development.
“Secara keseluruhan, beladiri bukan hanya tentang pertarungan, tetapi sebagai media edukasi dan pembangunan manusia yang berkelanjutan,” ujar Nasrullah.
Rektor berharap, ke depan prestasi atlet Teknokrat dapat terus meningkat dan melampaui capaian yang telah diraih saat ini.










