https://sibermedia.net/wp-content/uploads/2025/05/WhatsApp-Image-2025-05-24-at-13.49.51.jpeg

Di Bawah Holding Perkebunan Nusantara, Transformasi PalmCo Dinilai Jadi Fondasi Kemandirian Pangan dan Energi

SIBERMEDIA. NET, PEKANBARU – Transformasi berkelanjutan yang dijalankan PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo di bawah holding Perkebunan Nusantara dinilai bukan sekadar jargon. Upaya modernisasi bisnis sawit yang dilakukan subholding dari PTPN III (Persero) itu disebut telah masuk tahap eksekusi nyata dan menjadi fondasi penting dalam memperkuat kemandirian pangan, energi, serta kedaulatan ekonomi nasional.

Penilaian tersebut disampaikan Managing Director Business 2 Danantara, Setyanto Hantoro, saat melakukan kunjungan kerja perdana ke PTPN IV Regional III di Riau, Rabu (23/2/2026). Kunjungan berlangsung di Kebun dan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Sei Pagar, salah satu unit operasional PalmCo di Bumi Lancang Kuning.

Turut hadir dalam agenda tersebut Managing Director Risk Management Danantara Riko Banardi serta Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko Santosa beserta jajaran manajemen regional.

“Transformasi di sektor perkebunan tidak cukup berhenti pada perencanaan. Yang kami lihat di sini adalah konsistensi dan keberanian mengeksekusi perubahan secara menyeluruh, dari hulu hingga hilir. Ini penting untuk mendukung kemandirian pangan dan energi sekaligus kedaulatan ekonomi,” ujar Setyanto.

Riko Banardi menambahkan, kunjungan tersebut memberi gambaran menyeluruh mengenai teknis bisnis sawit terintegrasi PalmCo. Menurutnya, kolaborasi antara Danantara sebagai pemegang saham dan PalmCo dapat semakin diperkuat.

“Saya bangga sekaligus sangat impressed dengan PTPN IV PalmCo. Bottom line PalmCo sangat jelas, impact dan output-nya terukur. Pak Jatmiko juga mampu menyeimbangkan digitalisasi, mekanisasi, dan penguatan SDM,” katanya.

Kelola 600 Ribu Hektare

Saat ini PalmCo mengelola lebih dari 600.000 hektare perkebunan sawit nasional. Dalam kunjungan tersebut, manajemen Danantara meninjau langsung rantai bisnis terintegrasi, mulai dari pembibitan, budidaya, pengolahan, hingga pemanfaatan limbah menjadi sumber energi baru terbarukan.

Agenda diawali dari sentra pembibitan Kebun Sei Pagar, satu dari tujuh sentra pembibitan sawit unggul bersertifikat di Riau. Fasilitas ini menjadi tulang punggung program peremajaan sawit rakyat sejak 2021.

Hingga kini, sekitar 2,56 juta bibit sawit unggul telah disalurkan kepada lebih dari 8.900 petani. Program tersebut diarahkan untuk memperkecil kesenjangan produktivitas antara kebun rakyat dan perkebunan perusahaan.

Dalam proses pembibitan, PalmCo memadukan teknologi dan mekanisasi seperti sistem irigasi sprinkle, drone sprayer, hingga pengembangan penangkaran serangga penyerbuk elaidobius.

Digitalisasi dan Kinerja 2025

Digitalisasi menjadi pilar penting transformasi PalmCo. Sejumlah aplikasi internal seperti Digital Farming dan Agroview dimanfaatkan untuk pengendalian biaya dan peningkatan produktivitas. Di lapangan, digitalisasi diperkuat dengan mekanisasi peralatan panen dan perawatan kebun seperti grabber dan spreader.

Di sektor pengolahan, perhatian juga diberikan pada penerapan sistem Intank yang memungkinkan pemantauan stok minyak sawit mentah (CPO) secara real-time.

Sinergi digitalisasi dan mekanisasi tersebut tercermin pada kinerja PTPN IV Regional III sepanjang 2025. Produksi tandan buah segar (TBS) inti regional tumbuh 5,4 persen menjadi 1,6 juta ton dengan produktivitas mencapai 24,07 ton TBS per hektare per tahun.

Pabrik kelapa sawit mencatat produksi CPO sebesar 575.000 ton dengan produktivitas 5,68 ton CPO per hektare per tahun. Produksi minyak inti sawit (PKO) mencapai 115.000 ton, dengan rendemen CPO 23,59 persen atau melampaui target perusahaan.

Secara konsolidasi, PalmCo membukukan produktivitas CPO sebesar 4,70 ton per hektare per tahun, tumbuh 9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih perusahaan tercatat Rp 6,19 triliun atau sekitar 170 persen dari target RKAP.

Setyanto menilai capaian tersebut mencerminkan praktik terbaik transformasi bisnis perkebunan yang modern, efisien, dan berorientasi keberlanjutan.

“Apa yang kami lihat menunjukkan integrasi antara digitalisasi, mekanisasi, dan prinsip ESG. Ini bukan retorika, tetapi kerja nyata di lapangan,” ujarnya.

Sementara itu, Jatmiko Santosa menegaskan transformasi yang berjalan merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan.

“Sejalan dengan arahan Danantara dan BP BUMN, kami bertumpu pada tiga pilar utama, yakni peningkatan produktivitas, efisiensi biaya, dan keberlanjutan. Ketiganya kami jalankan secara simultan,” katanya.

Di tengah tantangan global sektor pangan dan energi, modernisasi BUMN perkebunan dinilai tidak hanya relevan bagi kinerja korporasi, tetapi juga memiliki arti strategis bagi ketahanan ekonomi nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *