https://sibermedia.net/wp-content/uploads/2025/05/WhatsApp-Image-2025-05-24-at-13.49.51.jpeg

Tepis Stigma Negatif, Mahasiswa IPB Cek Langsung Kelapa Sawit Berkelanjutan PTPN IV PalmCo

SIBERMEDIA. NET, BANDAR LAMPUNG – Industri kelapa sawit selama ini kerap dihadapkan pada berbagai narasi skeptis di panggung global. Isu lingkungan hingga tata kelola yang dianggap belum ideal menjadi perdebatan, termasuk di ruang-ruang akademik.

Untuk melihat langsung realitas di lapangan, puluhan mahasiswa Magister Agronomi dan Hortikultura dari Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan kunjungan ke unit perkebunan dan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) milik PTPN IV PalmCo.

Kunjungan lapangan (field trip) yang diinisiasi civitas akademika bersama Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) ini menjadi momentum pembelajaran langsung bagi mahasiswa yang mayoritas berasal dari Generasi Z.

Dari Teori ke Praktik Lapangan

Novita, mahasiswi S2 IPB asal Papua, mengaku mendapatkan perspektif baru setelah melihat langsung praktik pengelolaan sawit berkelanjutan.

“Selama ini kami tahu teorinya, tapi ini kali pertama saya melihat langsung bagaimana RSPO bekerja di lapangan. Melihat cara panen yang benar, pembagian batas area kebun yang sangat jelas, hingga sistem manajemen pekerja yang tertata, ini benar-benar menjadi ilmu baru. PTPN bekerja secara sistematis dan mengemban tanggung jawabnya di lapangan,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Fadil. Ia menilai pengalaman turun langsung ke kebun hingga pabrik memberikan gambaran utuh mengenai rantai pasok industri sawit.

“Sebagai mahasiswa, pengenalan terkait bisnis serta operasional sawit itu masih sangat terbatas. Melihat manajemen sawit secara riil dari hulu di kebun hingga ke hilir di pabrik membuktikan satu hal, ketika dikelola dengan tata langkah yang baik dan berkelanjutan, sawit memiliki dampak ekonomi yang sangat positif dan terukur,” katanya.

Efisiensi dan Transparansi Operasional

Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa juga mengamati proses pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) menjadi Crude Palm Oil (CPO). Proses itu disebut dapat diselesaikan dalam waktu sekitar empat jam dengan pengelolaan limbah yang ketat.

Transparansi dan keteraturan proses dinilai memberikan gambaran konkret tentang penerapan prinsip keberlanjutan yang selama ini dipelajari di bangku kuliah. Bahkan, sebagian mahasiswa mulai melihat industri sawit berkelanjutan sebagai pilihan karier yang menjanjikan.

Validasi Standar Global

Hadirnya perwakilan RSPO dalam kunjungan tersebut mempertegas bahwa praktik di lapangan merupakan implementasi standar sertifikasi internasional.

Aryo Gustomo, Director Assurance RSPO, menyebut PTPN IV sebagai salah satu perusahaan yang dinilai konsisten menerapkan praktik sawit lestari.

“Bagus sekali mahasiswa dapat melihat langsung praktik sustainability di PTPN. Karena PTPN IV merupakan member RSPO yang sangat baik dengan 69 unit pabrik tersertifikasi,” ujarnya.

Sementara itu, Farah Damia Mohd Zainal, Assistant Manager Talent Acquisition RSPO, menekankan pentingnya pemahaman langsung di lapangan.

“Kunjungan ini memberikan pengalaman nyata tentang bagaimana PTPN menjalankan certification journey RSPO di lapangan. Memahami proses ini secara on-ground dan mendalam memberikan dampak pemahaman yang jauh lebih besar dibandingkan teori di buku,” ucapnya.

Jawaban atas Kampanye Negatif

Dosen Fakultas Pertanian IPB, Prof. Dr. Ir. Herdhata Agusta, menilai kepatuhan terhadap standar internasional menjadi jawaban atas kampanye negatif yang kerap menyasar komoditas sawit Indonesia.

“Kampanye di luar negeri selalu kuat dan negatif. Dulu ada narasi bahwa sawit rakus air, prosesnya tidak standar, dan sebagainya,” jelasnya.

“Namun dengan sertifikasi RSPO yang sifatnya internasional ini, semua proses menjadi berstandar baku, tersertifikasi, dan diawasi ketat. Kriteria keberlanjutan yang dipenuhi secara disiplin di lapangan ini akan menjadi daya ungkit untuk mengangkat kembali citra sawit Indonesia di mata dunia.”

Kunjungan ini menyimpulkan bahwa literasi keberlanjutan tidak cukup hanya dibahas di ruang kelas. Observasi langsung ke kebun dan pabrik menjadi langkah penting membangun pemahaman berbasis fakta.

Bagi para mahasiswa, praktik sawit berkelanjutan bukan lagi sekadar konsep di atas kertas, melainkan realitas yang dapat disaksikan secara langsung di lapangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *