https://sibermedia.net/wp-content/uploads/2025/05/WhatsApp-Image-2025-05-24-at-13.49.51.jpeg

TJSL PTPN IV Regional III Perkuat UMKM Ayam Petelur, Jaga Ketahanan Pangan Lokal di Tengah Kenaikan Harga Pakan

SIBERMEDIA. NET.COM, PEKANBARU — Di tengah tekanan kenaikan harga pakan ternak serta gangguan distribusi akibat bencana alam, peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) peternakan ayam petelur dinilai semakin strategis dalam menjaga ketahanan pangan lokal.

Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh Khairul Anhar, peternak ayam petelur skala rumahan asal Desa Pandau Jaya, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Riau.

Selama hampir satu tahun menekuni usaha ayam petelur, Khairul mengelola sekitar 200 ekor ayam yang memasok kebutuhan telur masyarakat, khususnya di wilayah Pekanbaru dan sekitarnya.

“Permintaan telur di Pekanbaru sebenarnya masih cukup baik. Tantangan terbesar kami saat ini adalah harga pakan yang terus naik,” ujar Khairul saat ditemui di Region Office PTPN IV Regional III, Pekanbaru, belum lama ini.

Ia mengungkapkan, dalam enam bulan terakhir harga pakan ternak tidak kunjung turun, bahkan cenderung meningkat. Kondisi tersebut diperparah dengan terganggunya pasokan bahan baku pakan dari Sumatera Utara dan Sumatera Barat akibat bencana banjir.

“Distribusi tersendat, bahan baku sulit, dan harga makin mahal. Ini sangat berat bagi peternak kecil seperti kami,” katanya.

Khairul mengaku telah berupaya menekan biaya produksi dengan meracik pakan secara mandiri. Namun, keterbatasan bahan dan formulasi membuat kebutuhan nutrisi ayam belum terpenuhi secara optimal.

“Kalau pakan kurang, produksi telur ikut turun. Ini berpengaruh langsung pada pasokan pangan,” jelasnya.

Di tengah situasi tersebut, Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PTPN IV Regional III, entitas di bawah Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), hadir memberikan dukungan berupa bantuan modal usaha.

Menurut Khairul, bantuan tersebut menjadi penopang penting agar usaha tetap berjalan dan pasokan telur ke pasar tidak terhenti.

“Dengan bantuan ini, kami bisa bertahan. Usaha tidak berhenti dan suplai telur ke pasar tetap jalan,” ujarnya.

Ia menilai, dukungan terhadap UMKM peternakan memiliki dampak strategis karena langsung menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Tanpa dukungan, peternak kecil berpotensi gulung tikar dan berujung pada berkurangnya pasokan pangan lokal.

“Kalau UMKM seperti kami tidak sanggup bertahan, pasokan telur lokal pasti berkurang. Ini bukan hanya soal usaha, tapi soal ketahanan pangan,” tegasnya.

Khairul juga mengungkapkan bahwa harga jual telur saat ini belum mampu mengimbangi kenaikan biaya produksi, sehingga margin usaha semakin menipis.

“Pasar tidak naik, tapi biaya produksi terus naik. Tanpa dukungan, UMKM sangat sulit bertahan,” katanya.

Meski demikian, Khairul tetap optimistis. Ke depan, ia berencana mengembangkan usaha dengan menambah populasi ayam petelur serta melakukan diversifikasi ke ayam kampung pedaging yang memiliki pangsa pasar cukup besar.

“Ke depan, saya ingin mengembangkan ayam kampung pedaging. Pasarnya masih luas dan bisa memperkuat pasokan protein hewani lokal,” ungkapnya.

Ia pun mengapresiasi peran PTPN IV Regional III yang dinilainya hadir di saat UMKM membutuhkan dukungan nyata.

“Bantuan ini bukan hanya soal modal, tapi juga menjaga agar usaha kecil seperti kami tetap hidup dan bisa berkontribusi pada ketahanan pangan,” ujarnya.

Atas dukungan tersebut, Khairul menyampaikan terima kasih kepada PTPN IV Regional III, bagian dari Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), yang telah memberikan perhatian kepada pelaku UMKM peternakan.

“Semoga ke depan semakin banyak UMKM peternakan yang bisa diperkuat agar ketahanan pangan lokal tetap terjaga,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *