SIBERMEDIA. NET, Muhammadiyah Australia College (MAC) hadir sebagai ruang perjumpaan harmonis antara nilai-nilai luhur Indonesia dan sistem pendidikan Barat. “Nilai keislaman dan keindonesiaan tetap dijaga, sembari para siswa tumbuh dan berkembang dalam kultur pendidikan Australia,” ujar Hamim Jufri.
Perjalanan pendirian MAC bukan tanpa tantangan. Keterbatasan dana, resistensi sebagian warga lokal, serta proses perizinan yang panjang dan ketat sempat menjadi hambatan serius bagi PCIM Australia.
Namun kerja keras tersebut akhirnya berbuah manis setelah MAC resmi memperoleh izin operasional dari VRQA – Department of Education Victoria. Izin ini sekaligus menjadi bentuk pengakuan pemerintah Australia atas komitmen dan profesionalisme Muhammadiyah di bidang pendidikan.
Bertumbuh Pesat dalam Waktu Singkat
Sejak mulai beroperasi pada 21 Desember 2021, MAC hanya memiliki 36 siswa pada angkatan pertamanya, dengan sekitar 20 persen berasal dari keluarga keturunan Indonesia.
Dalam kurun waktu kurang dari lima tahun, jumlah peserta didik melonjak signifikan. Pada tahun ajaran 2025–2026, MAC telah menampung lebih dari 200 siswa dengan dukungan 35 guru dan staf profesional.
Seluruh tenaga pendidik di MAC diwajibkan memiliki sertifikasi Victorian Institute of Teaching (VIT), sehingga kualitas pembelajaran tetap sejalan dengan standar pendidikan negara bagian Victoria.
Sebagai sekolah independen dan ko-edukasi, MAC terbuka bagi siswa dari berbagai latar belakang budaya dan kewarganegaraan. Meski dipimpin oleh kepala sekolah asal Singapura, pengelolaan institusi tetap berada di bawah naungan Muhammadiyah.
Badan Pembina Harian diketuai oleh tokoh-tokoh nasional PP Muhammadiyah, antara lain Prof. Dr. Abdul Mu’ti, Muhammad Sayuti, M.Ed., Ph.D., dan Dr. Taufiqurrahman.
Menjadi Jembatan Pendidikan Global
Dalam dialog bersama Hamim Jufri, Muhammad Ihsan Dacholfany—Ketua Forum Pimpinan AIK (FORPIM) PTMA PP Muhammadiyah—menyampaikan harapan agar MAC dapat menjadi ruang kolaborasi internasional bagi perguruan tinggi Muhammadiyah.
Ia mendorong agar mahasiswa PTMA yang unggul mendapatkan kesempatan magang maupun praktik mengajar di MAC. “Pengalaman ini akan sangat berharga, tidak hanya untuk pengembangan akademik, tetapi juga untuk memahami sistem pendidikan dan budaya Australia secara langsung,” tuturnya.
Lebih dari sekadar mendirikan sekolah di luar negeri, kehadiran MAC mencerminkan visi Islam berkemajuan Muhammadiyah. Ia menjadi wujud nyata dinul tanwir dan ikhtiar menghadirkan Islam rahmatan lil ‘alamin di tengah masyarakat global yang multikultural.
Dari Melton, Melbourne, Muhammadiyah menegaskan bahwa pendidikan dapat menjadi jembatan peradaban—menembus batas geografis, menyatukan nilai, dan tetap berakar kuat pada jati diri.










