https://sibermedia.net/wp-content/uploads/2025/05/WhatsApp-Image-2025-05-24-at-13.49.51.jpeg

Inovasi Gizi Poltekkes Tanjungkarang: Brownies Kelor dan Tempe Jadi Solusi Atasi Anemia Ibu Hamil di Lampung Selatan

SIBERMEDIA. NET, LAMPUNG SELATAN – Masalah stunting dan anemia pada ibu hamil masih menjadi tantangan kesehatan serius di berbagai daerah, termasuk di Desa Tanjungsari, Kabupaten Lampung Selatan.

Menyikapi hal tersebut, Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Tanjungkarang menghadirkan solusi inovatif dengan melatih masyarakat mengolah pangan lokal menjadi kudapan bergizi tinggi.

Tim PKM ini diketuai oleh Arie Nugroho, S.Gz., M.Gizi, Dietisien selaku Ketua Jurusan Gizi dengan melibatkan dua anggota tim yakni Reni Indriyani, SKM, M.Si, Dietisien dan Dr. Sefanadia Putri, S.TP., M.TA.


Mereka menggelar kegiatan pemberdayaan bertajuk “Optimalisasi Pemanfaatan Pangan Lokal Brownies Daun Kelor dan Tempe” pada akhir November 2025 lalu, yang menyasar ibu hamil serta kader Posyandu desa setempat.

Arie Nugroho menjelaskan, pemilihan daun kelor dan tempe bukan tanpa alasan. Hal ini didasari data Dinas Kesehatan setempat yang menunjukkan bahwa kasus anemia pada ibu hamil dan kejadian stunting pada balita masih tercatat cukup tinggi di wilayah tersebut dan memerlukan intervensi gizi yang tepat.

“Daun kelor kaya akan zat besi dan kalsium, sementara tempe adalah sumber protein nabati terbaik. Namun, seringkali masyarakat bingung mengolahnya agar disukai anak-anak. Karena itu, kami kreasikan menjadi Brownies Kukus yang enak, lembut, namun tetap padat gizi,” ujar Arie dalam keterangannya, Jumat 5/12/2025.

Dipandu Pakar Teknologi Pangan
Sesi praktik pembuatan Brownies Kelor-Tempe ini dipandu langsung oleh Dr. Sefanadia Putri, S.TP., M.TA selaku pakar teknologi pangan.

Dalam sesi tersebut, puluhan peserta diajarkan teknik khusus mengolah daun kelor agar kandungan vitaminnya tidak rusak karena panas berlebih, serta trik menyamarkan bau khas (langu) daun kelor agar rasanya disukai.

Antusiasme peserta terlihat sangat tinggi saat tim pengabmas mendemonstrasikan langkah demi langkah pembuatan camilan sehat tersebut.

Salah satu inovasi yang ditawarkan adalah substitusi sebagian bahan tepung dengan bahan lokal yang lebih sehat.

Anggota tim pengabdi, Reni Indriyani, SKM, M.Si, Dietisien menambahkan bahwa produk Brownies Kelor-Tempe ini diharapkan dapat menjadi alternatif menu Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di Posyandu yang selama ini kerap monoton.

“Tujuannya adalah memperbaiki asupan gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Jika ibu hamil sehat dan tidak anemia, risiko melahirkan bayi berat badan rendah (BBLR) berkurang, sehingga mata rantai stunting bisa diputus sejak dini,” tegas Reni.

Komitmen Keberlanjutan Kegiatan ini tidak berhenti pada pelatihan saja. Sebagai bentuk dukungan keberlanjutan, Tim Poltekkes Tanjungkarang menyerahkan hibah peralatan produksi berupa alat kukus, mixer dan perlengkapan pendukung lainnya kepada mitra Posyandu.

Evaluasi pasca-kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta yang signifikan mengenai gizi dan pengolahan pangan.

Lebih dari itu, telah terbangun komitmen antara kader dan perangkat desa untuk memasukkan menu brownies inovasi ini ke dalam siklus PMT rutin bulanan.

Kepala Desa dan pihak Puskesmas Tanjungsari mengapresiasi langkah nyata akademisi Poltekkes Tanjungkarang.

Program ini dinilai mampu mendorong kemandirian masyarakat dalam memanfaatkan potensi pangan lokal yang murah dan mudah didapat demi mewujudkan Desa Tanjungsari yang sehat dan bebas stunting.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *